Menikah? Apakah Sebuah Keharusan?

 Apakah merupakan keharusan bagi setiap orang untuk menikah? Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sering dipertanyakan oleh banyak orang. Ada beberapa orang yang menyebut jika tidak menikah adalah aib bagi keluarga. Jika tidak menikah, maka kamu gagal menjadi manusia. Jika tidak menikah hidupmu tidak utuh dan lain sebagainya. Jika berkaca kepada pendapat orang maka banyak hal yang dapat kita lihat dan dengar.


Saat ini kita akan melihat bagaimana Firman Tuhan membahas hal ini? Sebelumnya, ada beberapa point yang harus kita perhatikan:

1. Asal-usul Pernikahan
    Pernikahan adalah sesuatu yang kudus yang direncanakan oleh Allah. Allahlah yang merencanakan pernikahan bagi manusia, sehingga pernikahan itu adalah inisiatif Allah sendiri (Kej. 2:18, 24). 
Pada Kejadian 2:18 dikatakan, "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." Ayat ini jelas menyatakan bahwa penolong yang Tuhan jadikan bagi manusia itu adalah inisiatif dari Allah. Pada Kejadian 2:24, "Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging." Ayat ini menyiratkan adanya penyatuan antara pria dan wanita yang biasanya disebut sebagai pernikahan. Dengan demikian, sejak awal Allah mengizinkan pernikahan. Setelah mereka bersatu, Allah memberkati mereka dan memberikan perintah untuk beranak cucu dan menguasai bumi (Kej. 1:28). Ini adalah mandat pertama yang Tuhan nyatakan kepada manusia. Secara tidak langsung dapat dilihat bahwa pria dan wanita memiliki mandat yang sama dari Allah. Maka, antara pria dan wanita butuh kerjasama dalam melakukan mandat itu. Dengan demikian pernikahan tidak hanya sekedar penyatuan antara pria dan wanita, tetapi penyatuan itu juga bertujuan untuk menjalankan mandat Allah bersama-sama, sehingga nama Tuhan dipermuliakan.
Kesimpulan dalam bagian ini, bahwa pernikahan adalah inisiatif dari Allah, dimana Allah adalah Pencipta manusia itu sendiri.

2. Apakah Semua Manusia Harus Menikah?
    Alkitab tidak menuliskan bahwa setiap manusia wajib untuk menikah. Pernikahan bukan hanya sekedar bereproduksi, sebab bereproduksi adalah salah satu dari mandat Tuhan. Maka, apakah wajib setiap orang untuk menikah?

Hal ini telah dijawab oleh Tuhan Yesus, ketika orang Farisi, mencobai Dia dalam pertanyaan mengenai "hal perceraian." Akibatnya, ada orang-orang yang mengatakan lebih baik tidak kawin. Yesus menjawab demikian, "ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti (Mat.19:12). Dari ayat ini ada tiga hal yang perlu kita perhatikan:
(1). Tidak semua orang kawin/menikah
(2). Pernikahan bukanlah kewajiban
(3). Ada tiga hal yang membuat seseorang tidak menikah yaitu: (1). Dilahirkan memang tidak untuk menikah, (2). Karena orang lain (3). Kemauannya sendiri. Ini adalah pernyataan langsung dari Yesus.

    Yesus dengan jelas mengatakan ada tiga hal yang menyebabkan seseorang tidak kawin atau menikah: Pertama, dilahirkan memang tidak untuk menikah, hal ini menandakan bahwa sejak dikandungan atau di rahim ibunya, ia sudah ditentukan dan ditetapkan untuk tidak menikah. Ini adalah point penting yang harus diperhatikan. Kita harus memeriksa diri kita sebelum menjalin hubungan dan menetapkan diri untuk menikah dengan mempertanyakan, "apakah saya dilahirkan untuk menikah? Atau tidak?"
Kedua, tidak menikah karena orang lain. Banyak pendapat akan hal ini. Ada beberapa orang menyatakan bahwa kemungkinan seseorang tersebut tidak menikah, karena dia tulang punggung dari keluarga, maka ia merelakan dirinya untuk tidak menikah. Alasannya, karena orang lain. Atau karena ada pengalaman dari orang lain yang membuatnya memilih untuk tidak menikah. Ketiga, karena diri sendiri yaitu karena Kerajaan Sorga. Seseorang tidak menikah karena ingin melayani Tuhan. Sebagi contoh nyata adalah para pelayan Tuhan yang tidak menikah.

3. Metode Memutuskan untuk Menikah Atau Tidak
    Sebelum memutuskan untuk menikah, seseorang dapat memperhatikan ketiga hal tersebut di atas. Sebelum menjalin hubungan dan menikah, pastikan bahwa kamu dilahirkan memang untuk menikah.
Rasul Paulus mengatakan baik menikah atau tidak sama-sama baik (1 Korintus 7:38) dan baik menikah atau tidak bukanlah dosa. Akan tetapi lebih baik jika tidak menikah sebab mereka tidak akan ditimpa kesusahan badani. Hal itu dinyatakannya kepada jemaat Korintus, "tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa. Tetapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu (1 Kor. 7:28).            Kesusahan badani yang dimaksud adalah kesusahan badani seperti tanggung jawab menjadi suami, istri atau tanggung jawab menjadi orang tua ketika memiliki anak. Maka sebelum menikah harus betul-betul memahami hal tersebut.

    Akan tetapi, untuk menjauhkan diri dari dosa, maka lebih baik untuk menikah. Firman Tuhan mengatakan dalam 1 Korintus 7:9, "Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin dari pada hangus karena hawa nafsu."

Maka, tidak menikah bukanlah sebuah aib atau dosa. Menikah atau tidak, sama-sama baik dan tidak ada keharusan untuk menikah. Tetapi agar tidak jatuh dalam dosa, maka menikahlah.


Comments

Popular Posts