Apakah Orang Kristen Berpuasa?
I. Etimologi dan Pengertian
Arti
sederhana mengenai puasa dinyatakan oleh perkataan Yunani yaitu “nesteia” yang
terdiri dari dua bagaian, yaitu awalan negative “ne” dan kata kerja “estio”
yang artinya “makan.” Sering sekali perkataan ini diterjemahkan berpantang
makan secara sukarela.[1]
Dalam
bahasa Ibrani ada dua kata yang mempunyai hubungan dengan perbuatan puasa. Yang
pertama berarti “berpantang semua makanan jasmani untuk tubuh.” Yang lain menggambarkan
akibat puasa, yaitu “penderitaan jiwa.” Jika digabungkan kedua perkataan itu
mengandung pengertian menghilangkan kesenangan tubuh secara sukarela dan
merendahkan jiwa untuk maksud-maksud rohani.[2]
Menurut
pandangan Kristen yang alkitabiah, puasa adalah menahan diri secara sukarela
untuk tidak makan demi tujuan yang rohani.[3]
Richard
Foster dalam buku 10 pilar mengatakan puasa adala secara sukarelawan menahan
diri dari dorongan normal yang timbul dari dalam tubuh kita demi mengutamakan
kegiatan rohani. [4]
Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, puasa adalah meniadakan makanan, minum dan
sebagainya dengan sengaja (terutama bertalian dengan agama).[5]
Sehingga puasa adalah berpantang makan, menghilangkan kesenangan tubuh dan merendahkan jiwa untuk maksud-maksud rohani.
II. Pembahasan
A. Sekilas Tentang Puasa
Puasa
adalah berpantang makan, menghilangkan kesenangan tubuh dan merendahkan jiwa
untuk maksud-maksud rohani. Sudah sejak lama puasa telah dikenal sebagai cara
untuk meningkatkan doa. Contoh orang-orang yang telah memperoleh nilai rohani
pada waktu mereka mengkhususkan diri untuk berdoa dan berpuasa, jumlahnya cukup
banyak di dalam Alkitab dan sepanjang sejarah gereja. Comtoh tokoh-tokoh
alkitab yang berpuasa adalah Yesus, Rasul Paulus, para pemimpin gereja abad pertama, Yesaya, Daniel, Ester, Daud,
Hana, Elia, Ezra, Nehemia, Zakharia dan lain-lain. Orang –orang terkemuka dalam
puasa sepanjang sejarah gereja antara lain adalah Martin Luther, John Calvin, John
Knox, John Wesly, David Brainard, George Muller, Rees Howels dan lain-lain.
Ketika
berpuasa panggilan-panggialn yang lain untuk sementara dikesampingkan dan kita mendekatkan
diri kehadirat-Nya. Kita harus meluangkan
banyak waktu untuk berelasi dengan Dia dan tidak menyibukkan diri dengan
hal-hal lain.
Dalam
alkitab Bahasa Inggris dinyatakan bahwa Ayub lebih menghargai firman yang
keluar dari mulut Tuhan dari pada makanan yang diperlukan olehnya, “my
necessary food” (Ayub. 23:12). Perkataan "necessary food" lebih tepat
diterjemahkan “porsi yang ditentukan.” Ayub mengganti makanannya sehari-hari
dengan Allah. Pilihan seperti itu merupakan suatu pernyatan bahwa baginya tidak
ada suatu apa pun yang lebih penting dari pada kehadiran Allah dan Firman-Nya.
Puasa
secara jasmani seringkali membawa perubahan-perubahan lebih jauh dalam hidup
kita yang rutin, karena perubahan-perubahan itu diperlukan untuk menyediakan
waktu khusus untuk menantikan Allahsecara pribadi dengan membuka hati dan jiwa
di hadirat-Nya.
B. Ada
beberapa Hal Yang Harus diperhatikan dalam Berpuasa
1. Yesus
mengajarkan bahwa kita berpuasa harus secara diam-diam, maka Allah akan bekerja
di dalam hati kita, Ia memeriksa sikap dan dorongan batin kita. Pada waktu kita
memusatkan hati kepada Allah melalui doa dan puasa, maka Ia melihat hati kita
dengan perhatian yang lebih besar. Ia ingin mengetahui apakah kita berpuasa
“untuk Dia.”
2. Berpuasalah
untuk Tuhan. Bagi seorang tokoh alkitab yaitu Zakharia, arti berpuasa, yaitu
untuk Tuhan. Hal itu tertulis dalam Zakharia 7:4-7. Ia ingin mengetahui apakah
kita berpuasa “untuk Dia.” Ia tidak melihat segi-segi luar dari puasa itu atau
bahkan memperhitungkan makanan yang tidak kita makan. Ini merupakan alat
pembantu kita untuk disiplin pribadi dan pemusatan hati.
3. Puasa
yang sungguh-sungguh membawa perubahan.
Puasa
yang merupakan jawaban terhadap prakarsa Allah akan menghasilkan pengaruh luas
yang praktis. Puasa akan menyebabkan hati kita peka terhadap kebutuhan orang
lain, karena peralihan pemusatan akan melepaskan kita dari perhatian terhadap
diri snediri. Kita menanggapi kebutuhan yang kitalihat bukan saja kepada Allah
di dalam doa, melainkan juga dalam memperhatikan orang lain. Doa, sedekah,
puasa, jika dilakukan dengan hati yang dipusatkan pada allah akan mengubah
hati.
C. Istilah Lain Puasa Adalah Merendahkan Diri
(Imamat 16:29-31)
Puasa
merupakan kesempatan untuk mengurangi nafus makan dan memalingkan perhatian,
kesempatan dan nafsu makan kepada kebutuhan-kebutuhan yang lebih penting. Puasa
adalah untuk merendahkan diri dengan menyangkali kesenangan hidup yang biasa dan gangguan-gangguan makan. Puasa harus
menjadi kesempatan dimana kita secar emosional harus bersikap jujur. Puasa juga
jangan menjadikan kita batu sandungan terhadap orang lain. (Mazmur. 69:11,12).
D. Puasa Adalah Pekerjaan Iman
Jika kita berdoa dan berpuasa kepada Allah, kita bertindak atas dasar keyakinan iman terhadap Allah. Imanlah yang membedakan antara puasa sebagai kebiasaan saja atau bahkan sebagai hukuman terhadap diri sendiri, dan puasa sebagai satu sarana doa. Dalam puasa yang benar, harapan kita harus ditujukan kepada Allah dan bukan kepada puasa itu sendiri.
E. Jenis-Jenis Puasa
Dalam
Alkitab ada beberapa macam puasa yang dituliskan. Adapun macam-macamnya yaitu:
1. Puasa
biasa
Jenis puasa ini adalah
puasa tidak makan namun tetap minum. Puasa ini adalah puasa umum yang telah
dilakukan orang Kristen. Beberapa ahli mengatakan Yesus saat berpuasa adalah
berpuasa jenis ini. Dikatakan dalam Matius 4:2, “dan setelah berpuasa empat
puluh malam, alkhirnya laparlah Yesus” dan Lukas 4:2, “selama di situ Ia tidak
makan apa-apa.” Dalam ayat ini tidak dikatakan Yesus tidak minum apa-apa.
Kemungkinan Yesus berpuasa biasa.
2. Puasa
sebagian
Jenis puasa ini adalah puasa yang tidak
makan makanan tertentu. Contoh dalam alkitab adalah Daniel. Selama sepuluh
hari, Daniel dan tiga orang pemuda Yehuda lainnya makan sayur dan minum air.
(Daniel 1:12).
3. Puasa
Total
Puasa tidak makan dan minum. Alkitab
mencatat bahwa Ezra berpuasa total (Ezra 10:6), “…. tidak makan roti dan minum air, sebab ia
berkabung karena orang-orang buangan itu telah melakukan perbuatan tidak setia.”
Dalam kitab Ester juga dituliskan bahwa Ester menyuruh orang-orang Yahudi
berpuasa dan berdoa baginya, jangan makan dan minum tiga hari lamanya, baik
waktu malam dan waktu siang (Ester 4:16).
4. Puasa
luar biasa
Ada dua contoh tentang hal ini dalam alkitab.
Misalnya ketika berbicara tentang perjumpaan Musa dan Allah di Gunung Sinai.
Dalam Ulangan 9:9, “…. Maka aku tinggal empat puluh hari empat puluh malam
lamanya di gunung itu, roti tidak ku makan dan air tidak ku minum.” Bukan hanya
Musa, nabi Elia pun melakukan hal yang sama. “ maka bangunlah ia, lalu makan
dan minum dan oleh kekuatan makanan itu ia berjalan empat puluh hari empat
puluh malam lamanya sampai ke gunung Allah, yakni gunung Horeb.” Puasa semacam
ini hanya dapat terjadi pada diri seseorang bila Tuhan berinisiatif memanggil
orang itu untuk mengalaminya.
5. Puasa Privat
Puasa privat adalh puasa yang
dimaksudkan Tuhan Yesus ketika Dia berbicara bahwa kita harus berpuasa tanpa
diketahui orang lain.
6. Puasa
bersama
Puasa seperti ini terungkap dalam Yoel
2:15-16. “tiuplah sangkakala di sion, adakanlah puasa yang kudus, maklumkanlah
perkumpulanraya; kumpilkan bangsa ini, kudusknalah jemaah.” Alkitab juga
mengungkapkan adanya puasa nasional. Ketika Raja Yosafat diberitahu bahwa
sebuah lancar yang besar sedang dalam perjalanan hendak menyerang dia, maka dia
“mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda
supaya berpuasa” (2 Tawarikh 20:3). Dalam Nehemia 9:1 dan Ester 4:16, seluruh
bangsa Yahudi dipanggil untuk mengadakan puasa nasional. Sebagai reaksi
terhadap khotbah Yunus, raja Niniwe juga menyerukan agar semua yang ada di kota
Niniwe berpuasa (Yunus 3:5-8).
7. Puasa
Berkala
Puasa berkala adalah jenis puasa yang
diperntahkan Allah, contohnya dalam Perjanjian Lama. Setiap orang Yahudi
diperintahkan untuk berpuasa pada hari raya Pendamaian (Imamat 16:29-31).
Ketika mereka berada dalam pembuangan di Babel, mereka berpuasa pada bulan
keempat, kelima, ketujuh, dan kesepuluh (Zakharia 8:19).
8. Puasa
khusus
Alkitab juga menyebutkan puasa khusus. Puasa macam ini dicanangkanbila ada kebutuhan khusus. Puasa macam ini dicanangkan oleh Raja Yosafat dan juga oleh Ester.
F. Tujuan Puasa
Puasa yang sesungguhnya bukanlah sekedar
menahan diri untuk tidak makan. Berpuasa tanpa tujuan tertentu yang bersifat
rohani sama halnya dengan “diet” untuk menurunkn berta badan. Adapun tujuannya
yaitu:
1. Untuk Menguatkan Doa
John Calvin
mengatakan bilamana kita berdoa kepada Tuhan untuk suatu masalah yang besar,
bijaksana sekali bila kita berpuasa sambil berdoa. Dari alkitab, kita melihat
bahwa umat Allah sering berpuasa bila sedang menaikkan suatu permohonan darurat
dalam suatu kedaan genting. Sebelum Ezra bertindak memimpin rombongan kaum
sebangsanya kembali ke Yerusalem, ia menyerukan agar mereka berpuasa, berpaling
kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh dan memohon Tuhan melindungi mereka dalam
perjalanan (Ezra 8:23). Tuhan selalu senang mendengar doa-doa umat-Nya. Dia
juga senang kalau kita menguatkan doa kita dengan puasa (Neh. 1:4, Yl. 2:12).
2. Untuk Mencari Petunjuk dari Tuhan.
Salah satu tujuan dari berpuasa
adalah mencari kehendak Tuhan. Hakim-hakim 20 menceritakan bahwa sebelas suku
Israel sedang bersiap-siap berperang melawan suku Benjamin karena suku Benjamin
melakukan perbuatan tercela terhadap gundik seorang Lewi. Sebelum berperang
merekameminta petunjuk Tuhan dengan berpuasa.
3. Untuk Mengungkapkan Kesedihan
Salah atu penyebab mengapa umat
Allah menangis da berpuasa di hadapan-Nya bukan hanya untuk meminta petunjuk
dari pada-Nya, tetapi juga untuk mengungkapkan betapa sedihnya mereka
kehilangan saudara-saudarnya di medan pertempuran.ketika Raja Saul dibunuh oleh
kaum Filistin, penduduk Yabesy-Gilead berjalan semalam-malaman ke kota Bet-Sean
untuk mengambil mayat Saul serta mayat anak-anaknya. Seusai penguburan (1
Samuel 31:13) merka berkabung dan berpuasa tujuh hari lamanya. Ketika Daud
mendengar kabar duka itu. Daud juga berkabung dan berpuasa dan juga orang yang
bersama-sama dnegan dia (2 Samuel 1:11-12). Bukan hanya karena kematian atau
kesedihan lainnya, tetapi umat Kristen juga berpuasa karena dosa-dosa mereka.
Puasa juga dapat mengungkapkan kesedihan atas dosa-dosa yang diperbuat
oranglain, misalnya atas dosa-dosa jemaat gereja. Dalam Alkitab Yonatan anak
Raja Saul berpuasa karena Raja Saul berusaha membunuh Daud (1 Samuel 20:34).
4. Untuk Memohon Kelepasan atau Perlindungan
Pada
zaman Perjanjian Lama, umat Allah berpuasa sambil memohon supaya Allah
menyelamatkan merekadari tangan musuh (2 Tawarikh 20:3-4; Ezra 8:21-23).
5. Untuk Mengekspresikan Pertobatan dan Kembali Kepada Tuhan
Pertobatan menandakan terjadinya
perubahan dalam pikiran dan hati kita. Petobatan yang disertai puasa menandakan
bahwa sipelakunya tidak sekadar meyadari dosa-dosanya, tetapi juga bertekaduntuk
mematuhi Tuhan dalam kehidupan yang baru.
Dalam 1 Samuel 7:6, umat Allah
mengungkapkan pertobatannya dengan berpuasa, “.. mereka juga berpuasa pada hari
itu dan berkata disana: “kami telah berdosa kepada Tuhan.” Dalam Yoel 2:12,
“tetapi sekarang juga, demikianlah firman Tuhan, “berbaliklah kepadaKu dengan
segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis dan dengan mengaduh.”
Puasa
yang paling dasyhat dalam sejarah umat Alalh adalah puasa yang tercatat dalam
Yunus 3:5-8. Itu adalah puasa yang mencerminkan pertobatan, setelah Allah
memakai nabi Yunus. Tanpa pertobatan puasa menjadi sia-sia jika masih mengeraskan
hati terhadap teguran Tuhan.
6. Untuk Merendahkan Hati dihadapan Tuhan
John Calvin mengatakan, berpuasa
adalah kegiatan rohani untuk merendahkan diri dihadapan Tuhan dan untuk mengakui
kebesaran Tuhan. Dalam Alkitab tercatat salah satu orang paling jahat dalam
sejarah kaum Yahudi adalah Raja Ahab. Namun akhrinya ia merendahkan diri
dihadapan Allah dengan berpuasa (1 Raja-raja 21:27-29), dan juga Daud (Mazmur
35:13).
7. Untuk Mengungkapkan Kepedulian Terhadap Pekerjaan Tuhan
Hal ini dinyatakan para orang
Kristen yang berpuasa dan berdoa karena merasa terbeban dengan pekerjaan Tuhan
dalam ruang lingkup yang lebih luas, karena bencana dan tragedy ataupun
penindasan. Itulah yang dilakukan Nehemia ketika ia mendengar tembok kota
Yerusalem masih tetap reruntuhan, belum dibangun kembali meskipun kaum Yahudi
sudah kembali ke kota itu dari pembuangan babel (Nehemia. 1:3-4). Daniel juga
terbeban mendoakan supaya orang-orang Yahudi kembali dari pengasingan dan
supaya Yerusalem dibangun kembali (Daniel 9:3).
8. Untuk Melayani Kebutuhan Orang Lain
Dalam Yesaya 58:6-7, Tuhan
menekankan salah satu tujuan puasa adalah memenuhi kebutuhan orang lain (Yesaya
58:3-4). Puasa yang berkenan di hati Tuhan adalah puasa yang membuahkan
perbuatan yang mempedulikan orang lain, tidak hanya mempedulikan orang lain
saja.
9. Untuk Mengatasi Godaan dan Mengabdikan Diri Kepada Tuhan
Puasa merupakan salah satu cara
untuk mengatasi godaan dan untuk memperbaharui pangabdian kita kepada Allah
Bapa. Berpuasa dengan tujuan hendak memperbaharui pengabdian kita kepada Tuhan
atau hendak bertekad untuk mengatasi godaan adalah tindakan yang tepat seperti
yang diperbuat Yesus Kristus sendiri.
10. Untuk Mengungkapkan Kasih dan Ibadah Kepada Tuhan
Puasa bukan hanya dilakukan pada
masa-masa sulit alkitab juga mengajarkan puasa adalah tindakan yang
mengekspresikan sepenuhnya mengabdikan diri kepada Allah. Puasa dapat menjadi
suatu pernyataan bahwa Tuhan adalah sumber sukacita dan kebahagiaan hidup. Atas
dasar itu mendisplinkan diri untuk berpuasa berarti mengasihi Tuhan lebih dari
pada makanan dan mencari Tuhan lebih penting dari pada makanan. Dalam
mempersiapkan diri untuk mengambil bagian dalam Perjamuan Tuhan orang –orang Kristen berpuasa atas tujuan ini.
Kesimpulan: Puasa merupakan salah satu disiplin rohani yang harus dilakukan. Motivasi puasa adalah Allah bukan manusia, puasa memiliki tujuan masing-masing yaitu, untuk mencari petunjuk Tuhan, untuk mengungkapkan kesedihan, untuk memohon kelepasan dan perlindungan, untuk mengekspresikan pertobatan dan kembali kepada Tuhan, untuk merendahkan hati dihadapan Tuhan, untuk mengungkapkan kepedulian terhadap pekerjaan Tuhan, untuk melayani kebutuhan orang lain, untuk mengatasi godaan, dan mengabdikan diri kepada Tuhan, untuk mengungkapkan kasih dan ibadah kepada Tuhan.
Allah bukan melihat atas apa yang
tidak kita makan namun ksesungguhan kita dalam beribadah dan dalam alkitab
tertulis jenis-jenis puasa yaitu, puasa biasa, puasa luar biasa, puasa privat,
puasa bersama, puasa berkala dan puasa khusus.
III. Refleksi Teologi
Puasa
bukanlah tradisi manusia mula-mula yang dianggap kuno, puasa telah tercatat
dalam alkitab yaitu dalam kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Puasa
dapat dilakukan oleh siapa saja dan dengan tujuan masing-masing namun harus
sesuai dengan esensi puasa yang sesungguhnya. Namun sekarang puasa dianggap
bukan suatu hal yang penting, bukanlah disiplin rohani, pendapat ini salah
sebab alkitab mencatat sendiri bahwa puasa itu penting sama halnya dengan doa
dan bersedekah. Puasa punya tujuan tertentu salah satunya mendekatkan diri
kepada Allah, mengapa kini kita merasa puasa tidak penting untuk dilakukan
padahal puasa merupakan salah satu cara untuk mendekat kepada Allah. Nabi-nabi,
Rasul, orang Kristen mula-mula bahkan Tuhan Yesus sendiri berpuasa untuk
mendekatkan diri pada Allah.
Tidak
ada larangan atau peniadaan puasa di zaman kini. Itu semua dapat terjadi karena
kemungkinan malas, tidak tahu makna puasa, menganggap puasa bukan hal yang
penting dan buang-buang waktu, masa bodoh dan ketidaktaatan pada Tuhan. Jadi,
meskipun zaman semakin tua atau modern, puasa tetap berlaku dan harus tetap
dilakukan karena puasa adalah salah satu disiplin rohani yang sangat penting
dan nilainya sama dengan doa dan sedekah. Jangan hanya doa dan sedekah yang
kita lakukan terus-menurus, ketiga hal itu harus seimbang bukan berat sebelah.
[1]
James Lee Beall, Puasa, (Bandung:
Yayasan Kalam Hidup, 1974), hal. 15
[2]
Ibid,
[3]
ibid
[4] La
Vonne Neff, Practical Christianity
(Wheaton, IL: Tyndal House, 1987), hal. 300
[5]Dendy
Sugono, KBBI
Pusat Bahasa,( Jakarta: Gramedia, 2011), hal. 1110



Comments
Post a Comment