Hamba Tuhan, Panggilan atau Profesi?
Artikel
Panggilan Sebagai Hamba Tuhan
Hamba Tuhan, Panggilan atau Profesi?
Begitu
banyak cita-cita yang dinyatakan oleh anak-anak SD ketika ditanyai oleh
gurunya. Masing-masing mengatakan pofesi-profesi yang hebat, ada yang bilang
dokter, pengacara, pilot, polisi, guru, perawat, dosen dan lain-lain, jarang
sekali yang mengatakan “aku mau jadi hamba Tuhan”.
Ada
apakah dengan ungkapan hamba Tuhan? apakah hamba Tuhan sebuah profesi? Atau
sebuah panggilan? Biasanya yang termasuk
kategori hamba Tuhan adalah para pelayan-Nya seperti pelayan-pelayan gereja
yang meliputi pendeta, biblevrouw, diakones, guru huria, penginjil dan penatua
beserta pelayan non gereja yang memiliki profesi lain di luar gereja namun
memberikan waktunya untuk melayani Tuhan dan jemaatnya.
Berbicara
mengenai “hamba Tuhan,” sering sekali ungkapan ini disalah mengerti. Secara
umum ungkapan ini dapat kita mengerti, bahwa kata “hamba Tuhan” terdiri dari
dua kata yaitu “hamba” dan “Tuhan”. Hamba adalah seorang budak yang dirinya
bukanlah miliknya, namun milik tuannya dan ia menghambakan serta mengabdikan
dirinya dengan tuannya. Maka segala yang ia lakukan harus sesuai dengan
keinginan tuannya. Kata “Tuhan” menandakan bahwa tuan dari hamba itu adalah
Tuhan.
Namun
kenyataan yang sering kita lihat adalah hamba Tuhan, bukanlah hamba Tuhan,
namun hamba dirinya sendiri atau hamba orang lain, hamba materi atau hamba yang
lain-lainnya. Kesukaan dan visinya juga adalah hal-hal duniawi. Akibatnya, nama
hamba Tuhan sering sekali tercemar. Jadi, apa dan siapakah sesungguhnya hamba
Tuhan itu? Bagaimana status hamba Tuhan yang benar? dan apakah sebenarnya tugas
dari hamba Tuhan?
Istilah
“hamba” sudah ada sejak zaman PL yaitu ebed.
Istilah,“ebed” (kata benda)
berasal dari kata kerja “eved” yang berfungsi
sebagai alat pekerjaan, ebed berarti
hamba, artinya seorang hamba bekerja untuk orang lain. Tugas hamba adalah
melayani dan melakukan segala kehendak tuannya. Dalam keagamaan Israel, istilah
ebed menggambarkan kerendahan diri
manusia sebagai ciptaan di hadapan Allah. Berarti kata ebed berbeda dengan budak. Dalam nyanyian Ebed Yahwe, Allah menyebut hamba dengan sebutan, hambaKu, yang
menunjukkan kedekatan antara hamba dengan Yahweh (Kel 4:10;
Mzm 119:17; 143:12,
Yes. 41:2;
49:1,2,: 50:4; 53:10-12). Di luar Alkitab kata itu berarti
budak; hamba yg melayani raja; bawahan dalam politik; keterangan tentang diri
sendiri untuk menunjukkan kerendahan hati; dan hamba-hamba dalam kuil-kuil
kafir.
Kata
“hamba” di dalam Perjanjian Baru adalah diakonos yang artinya adalah “hamba” (Mat.
20:26; 22:13; Fil. 1:1; Rom. 16:1). Istilah tersebut juga banyak terdapat pada
pernyataan Rasul Paulus. Rasul Paulus merujuk kata “hamba Tuhan” sebagai
pribadi Yesus Kristus sendiri (Fil. 2) yang telah menjadi hamba yang menderita
(1 Kor. 15:3-4;
2 Kor. 5:21;
Rm 4:25; 8:3-4,
32-34). Sehingga hal tersebut menjadi pola umat Tuhan (2 Kor. 4:5;
Kol. 1:24-25).
Kitab
Injil mengatakan bahwa “barangsiapa yang ingin menjadi besar diantara
kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu dan
barangsiapa ingin menjadi terkemukan diantara kamu, hendaklah ia menjadi
hambamu (Mat. 20:26-28)”. Sehingga prinsip utama hamba Tuhan adalah melayani.
Oleh karena itu, seorang hamba diperintahkan untuk melayani bukan dilayani,
seperti halnya Tuhan Yesus Kristus datang untuk melayani bukan dilayani. Ketika
seorang hamba dapat menyelesaikan pekerjaannya pun, ia tidak boleh memegahkan
diri, namun ia harus tetap menyebut dirinya sebagai hamba yang tidak berguna (Luk.
17:7-10). Demikianlah selayaknya hamba berperilaku.
Kitab
Lukas pasal 17:7-10 menyiratkan nilai kesetiaan, dimana meskipun hamba telah
letih bekerja seharian ia tidak boleh secara langsung beristirahat namun harus tetap
setia melayani tuannya. Ketika tuannya puas akan pelayanan tersebut, barulah
hamba itu diperbolehkan makan atau beristirahat. Bukan hanya itu, hamba tidak
boleh bermegah atas pekerjaan yang telah ia lakukan, meskipun pekerjaannya
telah selesai, ia hanya boleh berkata “kami adalah hamba-hamba yang tidak
berguna, kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.” Itulah status hamba
Tuhan yang benar, yang telah dituliskan di dalam alkitab.
Lantas
apa sesungguhnya tugas hamba Tuhan? hamba Tuhan diberi tugas untuk
mengembalakan domba-domba (Yoh. 21: 15-19). Tapi bukan berarti dia gembala
agung, porosnya adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri, ia hanya menjalankan mandat
saja dari Sang Gembala Agung. Sehingga hamba Tuhan bertanggung jawab untuk memberikan
domba-dombanya makan, menjaga domba-domba itu, merawatnya, menjaga agar tidak
tergelincir, tersesat bahkan mati.
Tugas
lain dari hamba Tuhan adalah memuridkan semua bangsa (Mat. 28:19-20). Kata
“semua bangsa” mencakup seluruh manusia, tidak dibatasi oleh ruang, suku,
etnis, ras, jenis kelamin, status sosial dan lain-lain. Berarti hal ini
merupakan tanggung jawab besar. Sehingga tidak ada waktu bagi hamba Tuhan untuk
berleha-leha dan bersantai-santai. Sebab dengan memuridkan semua bangsa dan
membuat mereka percaya kepada Yesus Kristus, merupakan usaha untuk merampas
mereka dari api (Yud. 1:23). Hal ini menandakan bahwa keberadaan hamba Tuhan
itu sangatlah penting bagi dunia.
Namun
saat ini kenyataannya berbeda. Bagi sebagian orang “hamba Tuhan” dianggap
sebagi profesi atau pekerjaan yang tujuannya untuk memperoleh uang. Kebanyakan hamba
Tuhan memiliki prinsip dan status yang tidak benar. Serta telah melenceng menjalankan
tugasnya dari apa yang telah diajarkan oleh Alkitab. Banyak hamba Tuhan yang
berkedudukan seperti raja, maunya dilayani bukan melayani, pilih-memilih jemaat
saat melayani, sebagian memberikan pelayanan hanya untuk jemaat yang kaya,
gereja menjadi sumber inventasi dan akhirnya semua jemaat mengalami kekeringan
bahkan kematian rohani. Bukan hanya itu, banyak juga hamba Tuhan yang
menjadikan pelayanannya sebagai sumber mencuri kemuliaan Tuhan, sebagai tempat
memperoleh pujian, menikmati keinginan daging sehingga hamba-hamba Tuhan banyak
yang jatuh dalam dosa.
Tugas
dan tanggung jawab hamba Tuhan sebagai pengembala yaitu untuk mengembalakan
kawanan domba-domba Tuhan dan memuridkan semua bangsa tidak berjalan dengan
benar. Hamba Tuhan sering sekali merasa bahwa jemaat bukanlah tanggung jawab
mereka sehingga hamba Tuhan hanya mencari keuntungan semata dari jemaatnya atau
malah merasa acuh tak acuh dengan kehidupan jemaat. Hal yang lebih miris lagi
adalah hamba Tuhan sering sekali dideskripsikan seumpama pengembala yang hanya
“mengguntingi” bulu-bulu dombanya, atau dengan arti lain hanya mencari
keuntungan dari jemaatnya, tetapi tidak memberi mereka makan, melalui
pelayanannya, tidak menegur mereka ketika salah dan tidak merawat serta
membimbing mereka ke jalan yang benar yaitu kehidupan kekal. Padahal hal tersebut
jelas-jelas salah dan berdosa.
Pelayanan
hamba Tuhan dewasa ini juga terasa seperti dibatasi. Dibatasi oleh ruang,
etnis, suku, status sosial dan lain-lain. Sehingga amanat agung tidak berjalan
dengan benar. Para hamba Tuhan harus menyadari bahwa Allah akan marah terhadap
para hamba Tuhan (pengembala) yang tidak bertanggung jawab dengan menuntut
kembali domba-domba-Nya, memberhentikan para pengembala dan mengangkat gembala
yang baru (Yeh. 34).
Jadi jika diberi kesempatan oleh Tuhan untuk
menjadi hamba Tuhan, seharusnya para hamba Tuhan memiliki rasa takut dan
bertanggung jawab terhadap domba-domba yang telah dianugerahkan kepadanya. Apa
lagi untuk menjadi hamba Tuhan bukanlah kemauan kita atau kita yang memilih tetapi
Tuhan yang memilih kita. Hal lain yang lebih penting adalah para hamba Tuhan
harus mengetahui prinsip dan statusnya. Hamba Tuhan bukanlah profesi tetapi
panggilan, sehingga menjadi hamba Tuhan bukanlah pekerjaan untuk mencari
nafkah. Oleh karena itu, tunaikkanlah tugas hamba Tuhan sebagaimana mestinya
yaitu sebagai hamba yang melayani tuannya, dimana tuannya itu adalah Allah,
Sang Penciptanya.



Comments
Post a Comment